Saya terkejut dengan materi penjelasan yang diberikan oleh bapak JD di milis IA-ITB. (biaya_produksi_minyak_bumi_nkri__cost_recovery-2007_) ternyata logika berpikirnya adalah bukan memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dulu kemudian sisanya diekspor. Sepertinya misalnya data tahun 2007
|
|
dlm barel |
dlm barel |
dlm barel |
dlm barel |
|
Tahun |
Produksi |
Konsumsi |
Ekspor |
Impor |
|
2008 |
84,822,501.00 |
76,714,500.00 |
29,623,200.00 |
23,224,200.00 |
|
2007 |
347,493,172.00 |
321,302,814.00 |
127,134,792.00 |
110,448,506.36 |
terlihat bahwa dari 347 juta barel produksi setahun, ternyata 36% nya diekspor. Sedangkan sesuai perjanjian kontrak bahwa hanya 25% yg diperuntukkan dalam negeri atau sekitar 86 juta barel saja sedangkan kebutuhan mencapai 321 juta barel. Oleh karena itulah selain mengambil jatah pemerintah dari 75% atas 347 juta barel, juga dilakukan impor untuk memenuhi kebutuhan adalam negeri.
Nah kenapa logika berpikirnya bukan penuhi dulu kebutuhan dalam negeri kemudian sisanya diimpor, saya melihat ada dua sebab yaitu adanya kerjasama bagi hasil dengan kontraktor minyak dimana lebih menguntungkan dijual ke luar dengan harga pasar daripada ke dalam negeri dengan harga yg jauh dari harga pasar. Kedua yaitu kewajiban sebagai anggota OPEX untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia.
Dengan harga minyak mencapai 100 dollar perbarel maka pada 2007 saja nilai impor BBM indonesia mencapai 100 trilyun rupiah (110 juta barel x 100$).
Bagaimana dengan pengertian subsidi sendiri. berikut ini adalah tulisan dari bappenas ttg subsidi ( bappenas-subsidi-bbm-pp1.) . Disana dijelaskan, pada intinya subsidi adalah kerugian yg diderita oleh pertamina untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri. Disana juga dijelaskan faktor2 apa saja kah yang berperan dalam menentukan besar nilai impr ekspor.
Mungkin yang dikatakan oleh kwik di sini adalah benar, dan secara kasar kalo kita lihat produksi minyak kita masih lebih tinggi dari konsumsi yang artinya ada nilai laba disana yang mencapai 35 trilyun. Akan tetapi sayangnya cara pandang pemerintah bukan seperti itu. Saya melihat nilai yang akan digelontorkan yg mencapai angka 300 trilyun adalah nilai impor BBM, bukan hasil dari proses hitungan kertas seperti diatas, dan nilai tersebut mungkin saja terjadi mengingat trend konsumsi minyak selalu tetap sedangkan produksi mengalami trend penurunan. Dan kemungkinan juga suatu saat akan terjadi dimana konsumsi melebihi produksi yang dalam artian, Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak dalam arti sebenarnya. Dengan melihat trend penurunan jumlah produksi minyak, saya melihat ada kemungkinan memang Indonesia sudah bukan negara pencadang minyak dunia atau dengan kata lain minyak Indonesia sudah habis. Kalo ini terjadi, pemerintah harus menyiapkan langkah dari sekarang.
Mengurangi nilai ekspor minyak dan berusaha untuk memenuhi terlebih dahulu kebutuhan dalam negeri pasti akan berdampak pada perjanjian bilateral multiyear ke negara2 pengimpor minyak yang resikonya Indonesia akan mendapatkan sangsi oleh dunia dan dengan harga minyak indonesia yg dibawah pasar akan mengurangi pendapatan negara meskipun efeknya adalah harga minyak bisa ditekan sampai sama dengan harga produksinya (misalnya premium sekitar 4000 rupiah). Akan tetapi bertahan dengan tetap komit dengan perjanjian bilateral akan membuat indonesia terbeban mengimpor BBM.
Saya mendapatkan bahwa ternyata solusi BBM tidak boleh naik itu bukan solusi yang baik. Solusinya ternyata sangat kompleks dan mempengaruhi sektor2 lain misalnya.
1. Ratrifikasi kebijakan pola kerjasama dengan kontraktor dan negara pengimpor minyak.
2. Kenaikan harga BBM perlu untuk case2 tertentu dan tetap diperlukan BBM bersubsidi dimana intinya yg mendapatkan subsidi adalah yang berhak , mekanisme lapangan masih menjadi persoalan.
3. Kontrol terhadap hilir2 minyak dimana ekspor2 gelap terjadi krn harga Indonesia lebih rendah dari negara tetangga
4. Kurangi konsumsi BBM, misalnya pembangunan MRT, kenaikan pajak kendaraan berCC besar, pembatasan mobil pribadi, efisiensi mesin, dan penggunaan energi alternatif.
Dengan melihat neraca impor ekspor minyak, maka yg paling memungkinkan adalah kurangi konsumsi sehingga nilai impor berkurang.

2 comments
Comments feed for this article
May 26, 2008 at 8:20 am
Gredinov
mas,
ada situs yang bisa menunjukan harga minyak dunia saat ini?
terus kebutuhan minyak indonesia dan indonesia bisa menghasilkan minyak berapa banyak?
May 26, 2008 at 8:31 am
bethesun
Produksi dan konsumsi minyak ada di http://dtwh2.esdm.go.id/dw2007/
Untuk harga minyak dunia bisa dilihat di situ2 stock exchange misalnya http://www.oil-price.net/index.php?lang=en